1 Buku untuk Indonesia

Berbagi buku untuk pendidikan

Membangun Asa di Poga

Leave a comment

Tentang Rosa dan Papua

Laut biru berpasir putih, langit cerah sepanjang mata memandang, bukit-bukit penuh pohon, dan salju abadi di puncak gunung tertinggi Indonesia. Mungkin gambaran-gambaran itu yang muncul dalam benak kita ketika berbicara tentang Papua. Memang tidak bisa disangkal bahwa Papua memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah, mulai dari sungai, hutan, laut, dan gunung. Serta kebudayaan yang beragam karena banyaknya suku yang tinggal di pulau ini.

Namun, apa yang ada di benak kita semua ketika berbicara pendidikan Papua? Kami rasa kita semua sepakat bahwa pendidikan di Papua masih jauh dari kata baik. Keterbatasan jumlah guru, kurangnya fasilitas pendukung seperti perpustakaan menjadi permasalahan yang tak kunjung usai di Bumi Papua. Entah apa yang salah dengan pembangunan pendidikan di Papua.

Di balik keterbatasan tersebut, sebenarnya anak-anak Papua tak berbeda jauh dengan anak-anak di bagian lain Indonesia. Mereka memiliki kemampuan yang sama, mereka memiliki keinginan untuk maju, mereka juga ingin menjadi pintar. Sama seperti anak-anak Indonesia di pulau lain.

Anak-anak Papua tidaklah bodoh, mereka hanya butuh diberi kesempatan belajar yang sama dengan anak-anak yang lain.”

Kalimat inilah yang keluar dari seorang Rosa Dahlia, seorang guru di Poga, Lanny Jaya, Papua. Bukan tanpa alasan Rosa berkata demikian. Apa yang dialami selama setidaknya 1,5 tahun terakhir ini meyakinkan Rosa bahwa anak-anak Papua sama seperti anak-anak yang lain, mereka cerdas, mereka pintar, tetapi mereka butuh diberikan kesempatan belajar yang sama dengan anak-anak Indonesia di bagian pulau yang lain.

Rosa bersama murid-muridnya di Tiom, Lanny Jaya.

Rosa bersama murid-muridnya di Tiom, Lanny Jaya.

Rosa Dahlia adalah seorang seorang wanita yang meninggalkan kehidupan nyaman di Pulau Jawa untuk mengejar impiannya menjadi seorang guru. Impian mulia Rosa untuk menjadi guru tercipta dari inspirasi seorang Butet Manurung, seorang aktivis lingkungan juga pendidikan yang mengabdi untuk Suku Anak Dalam di pedalaman Sumatera.

Langkah awal untuk mewujudkan pengabdian Rosa di bidang pendidikan adalah ketika ia bersama rekan-rekan di Yogyakarta membentuk sebuah komunitas berbagi. Komunitas tersebut bergerak di bidang pendidikan, terutama dalam berbagi buku. Mulai dari komunitas itulah akhirnya Rosa benar-benar memantapkan diri untuk mengabdi pada negeri, menjadi guru.

Gayung pun bersambut. Di awal tahun 2013, Rosa menerima tawaran untuk mengajar di sebuah sekolah dasar dari sebuah yayasan milik salah satu dedengkot pendidikan Indonesia. Tak main-main, tawaran mengajar tersebut langsung mengarah pada ujung timur negeri ini, Papua. Ya, tawaran pertama mengajar yang datang pada Rosa adalah menjadi guru di pedalaman Papua, di sebuah desa kecil bernama Tiom.

Dalam perjalanan Rosa mengajar, dia mengalami banyak kejadian yang unik. Perbedayaan budaya, bahasa, adat, semuanya menciptakan pengalaman mengajar yang sangat berbeda dengan apa yang ada di Pulau Jawa. Perbedaan bahasalah yang menjadi penghalang terbesar bagi Rosa saat mengajar karena ternyata tak banyak anak-anak usia sekolah dasar di Tiom yang menguasai Bahasa Indonesia. Alhasil, Rosa mau tidak mau harus mencampurkan Bahasa Indonesia dengan bahasa daerah setempat saat mengajar. Fasilitas pendukung pembelajaran pun bisa dikatakan cukup terbatas. Meskipun demikian, semangat anak-anak untuk belajar sangat tinggi, kreativitas mereka dalam berkarya pun sangat baik. Oleh karena itu, pada awal tahun 2014, Rosa membuat sebuah wadah untuk memfasilitasi semangat belajar anak-anak dalam bentuk media cetak, sebuah tabloid terbatas yang diberi nama Elege Inone.

Anak-anak saat proses pencetakan Elege Inone.

Anak-anak saat proses pencetakan Elege Inone.

Elege Inone sendiri dalam Bahasa Papua berarti Suara Anak. Sebuah nama yang mewakili kreativitas anak-anak di Tiom. Dalam tabloid tersebut Rosa memasukkan tulisan dan lukisan dari murid-murid sekolahnya. Tujuannya adalah agar anak-anak dapat menyalurkan bakat mereka dan juga sebagai pembelajaran penggunaan media elektronik untuk sesuatu yang bermanfaat. Hasilnya, tiga edisi sudah terbit sejak pertama kali Elege Inone dibentuk oleh Rosa. Isi dari Elege Inone bisa dibilang cukup beragam. Mulai dari puisi, cerita pendek, informasi tentang iptek, dan juga memuat beberapa gambar karya anak-anak di Tiom.

Sebenarnya Rosa tak hanya memberikan sebuah wadah untuk menyalurkan kreativitas bagi anak-anak di Tiom, tetapi Rosa juga ingin mengenalkan anak-anak di Tiom dengan teknologi-teknologi yang digunakan dalam sebuah memproses sebuah media cetak. Komputer, scanner, printer, dan juga kamera diperkenalkan Rosa kepada anak-anak. Sebuah hal baru bagi mereka karena selama ini mereka tidak pernah mengetahui bahwa benda-benda tersebut ada dan pengalaman menggunakan benda-benda tersebut pun sempat dituliskan dalam Elege Inone.

Namun, Rosa tak cukup lama berada di Tiom, hanya setahun dia mengajar di Tiom. Pada tahun berikutnya, Rosa diminta Pemerintah Daerah Kabupaten Lanny Jaya untuk mengajar di tempat yang berbeda, Poga. Mau tidak mau, Rosa harus meninggalkan murid-muridnya di Tiom dan juga meninggalkan Elege Inone untuk dikelola secara mandiri oleh anak-anak Tiom. Rosa pun memulai pengalaman baru mengajar di Poga, Lanny Jaya.

Tentang Poga

Meskipun masih berada dalam kabupaten yang sama dengan Tiom, Poga tidak bisa langsung ditempuh dengan kendaraan dari Tiom. Hal itu disebabkan tidak adanya jalan penghubung dari Tiom langsung ke Poga. Satu-satunya akses untuk menuju Poga adalah melalui Wamena. Perjalanan dari Wamena ke Poga bisa ditempuh dalam 2 jam perjalanan darat.

SD Poga dan anak-anak.

SD Poga dan anak-anak.

Sekolah di Poga tak berbeda jauh dengan di Tiom karena kedua tempat ini diproyeksikan sebagai salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Lanny Jaya. Jika Tiom masuk dalam Sekolah Unggulan I, Poga masuk dalam Sekolah Unggulan III. Sekolah di Poga memiliki kelas unggulan yang berisi 30 orang murid, sedangkan jumlah keseluruhan murid hampir mencapai 300 orang. Dari 300 orang itu tak pasti semuanya bisa berangkat sekolah. Setiap hari murid yang berangkat sekolah bisa berbeda.

Anak Poga yang sedang menggambar

Anak Poga yang sedang menggambar

Jika ditilik dari letak, akses ke Poga mudah dan lebih dekat dari Wamena, tetapi sangat berbeda jauh dengan Tiom. Di Poga, tidak ada listrik, bahkan tidak ada pos untuk mengirim surat ke Poga. Hal-hal tersebut yang menjadi hambatan Rosa dalam proses belajar mengajar yang biasanya bisa menggunakan peralatan multimedia sebagai sarana pembantu. Bukan Rosa namanya jika mudah menyerah pada kondisi seperti ini. Dalam kondisi yang serba terbatas ini, Rosa mencoba membuat proses belajar mengajar tetap menyenangkan. Dia memanfaatkan kertas, alat tulis, alat warna, dan beberapa piranti lainnya untuk memberikan pelajaran secara kreatif. Hasilnya anak-anak tetap bisa belajar dengan cara yang menyenangkan. Namun, berbeda dengan Elege Inone. Ketiadaan listrik di Poga menimbulkan kesulitan dalam membangun kembali Elege Inone karena dalam proses pembuatan media cetak, diperlukan beberapa benda yang membutuhkan sumber energi. Alhasil, Elege Inone terpaksa tidak dapat dilanjutkan di Poga.

Tentang Honai Pintar Poga

Ide Honai Pintar Poga sendiri sudah disampaikan Rosa sejak pertama kali menginjakkan kaki ke Poga. Honai Pintar Poga ini bisa dikatakan sebagai pusat informasi dan belajar masyarakat. Namun, di Honai Pintar ini semua informasi akan bergantung pada buku mengingat ketiadaan listrik di Poga. Ya, hanya buku yang bisa diakses oleh mereka yang ada di Poga. Langkah awal untuk pengumpulan buku oleh Rosa sudah dilakukan, tetapi masih dirasa kurang maksimal karena buku yang ada kurang memadai untuk jumlah murid yang mencapai 300 orang.

Honai Pintar Poga

Honai Pintar Poga

Beranjak dari kondisi tersebutlah 1 Buku untuk Indonesia berencana menggalang bantuan buku bacaan ke Poga untuk mendukung kegiatan di Honai Pintar Poga. Sekali lagi, buku menjadi sarana terbaik yang bisa kami kirim ke Poga. Selain itu, kami juga akan mencoba mengirimkan bantuan berupa alat tulis, buku tulis, alat peraga pendidikan, dan juga permainan edukatif yang nantinya bisa digunakan sebagai sarana belajar bagi anak-anak di Poga.

AuHp5jVUJ1mOtUmeBoz9PL8Ik6AJV7hq2HG_ma7dPTl5

Perlu diketahui bahwasanya program ini kami lakukan bukan karena kami melihat banyak keterbatasan yang ada di Papua, khususnya Poga. Sekali-kali bukan itu hal yang ingin kami angkat. Justru kami ingin mengapresiasi semangat anak-anak Poga untuk belajar. Butuh perjuangan lebih untuk sekedar dapat belajar di sekolah.

Anak-anak Poga tidak banyak yang tinggal berdekatan dengan sekolah. Sekalipun mereka tinggal berdekatan, mereka harus menuruni bukit yang terjal agar dapat berangkat ke sekolah. Belum lagi mereka yang harus berjalan jauh untuk mencapai sekolah.

DSC_0010 DSC_0011

Suatu waktu Rosa pernah mencoba ikut pulang ke rumah muridnya yang berada di Kampung Muara, sebuah kampung di punggungan Gunung Gibur. Perjalanan menuju kampung ini tidaklah mudah. Setidaknya perlu waktu 1,5 jam perjalanan yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 10 km menyusuri punggungan Gunung Gibur. Bisa kita bayangkan bagaimana perjuangan anak-anak untuk dapat berangkat dan pulang ke rumah. Mereka harus menempuh jarak sejauh itu hanya untuk bisa belajar di sekolah.

Semangat itulah yang ingin kami apresiasi, semangat untuk terus belajar demi hidup yang lebih baik. Kami juga ingin menunjukkan betapa banyaknya orang yang masih peduli dan mendukung mereka untuk terus belajar.

Bagaimana kami bergerak?

Satu Orang Satu Buku.

Konsep sederhana inilah yang selalu kami usung dalam penggalangan donasi buku sejak pertama kali komunitas 1 Buku untuk Indonesia berdiri. Meskipun hanya satu buku yang bisa diberikan oleh satu orang, tetapi jika bisa menggerakkan banyak orang maka buku yang terkumpul pun tidak mungkin sedikit.

Bukan tanpa alasan kami membawa ide tersebut. Kami ingin banyak orang yang makin peduli dengan pendidikan negeri ini. Jika saja kami membutuhkan 500 buku untuk didonasikan kepada mereka yang membutuhkan, maka akan ada setidaknya 500 orang yang berpartisipasi pada setiap program yang kami adakan. 500 orang yang menunjukkan kepeduliannya terhadap negeri ini.

Selain buku, Pada Program Honai Pintar Poga ini kami juga ingin menggalang dukungan dalam bentuk kartu pos yang nantinya akan dikirimkan bersama dengan buku-buku yang sudah terkumpul. Kami ingin kita semua menyampaikan dukungan tertulis kepada anak-anak di Poga atas semangat mereka untuk terus belajar meskipun terbentur dengan berbagai keterbatasan fasilitas di Poga.

Kartu pos tersebut nantinya akan berisi foto dan tulisan dukungan dari kalian. Kami ingin anak-anak Poga mengingat setiap wajah orang yang memberikan mereka dukungan untuk belajar. Kami juga ingin nantinya kartu pos ini bisa berbalas kepada kalian semua. Sebuah simbiosis yang saling berbalas baik.

Honai Pintar Tees Red Honai Pintar Tees Blue

Tidak hanya berhenti sampai di situ. Pada Program Honai Pintar Poga, kami kembali menggaet Pagihari, sebuah clothing company yang terus mendukung kegiatan sosial, untuk bekerja sama. Pagihari akan menggalang dana melalui penjualan kaos yang keuntungan dari penjualan kaos tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan belajar anak-anak seperti buku tulis, buku gambar, alat tulis, dan alat gambar. Beberapa alat penunjang pendidikan seperti poster dan permainan edukatif juga akan disupport dari hasil penjualan kaos Pagihari. Dengan demikian kebutuhan akan buku bacaan dan buku tulis serta pendukungnya akan terpenuhi.

Target buku yang kami tetapkan adalah 1000 eksemplar buku bacaan anak yang terdiri atas buku cerita, tabloid anak, buku-buku tentang iptek, ensiklopedia, dsb. Perlu diingat, kami tidak menerima buku pelajaran dalam bentuk apapun untuk diberikan kepada anak-anak Poga karena mereka sudah mendapatkan fasilitas tersebut dari sekolah. Pada program ini kami akan menitikberatkan pada buku bacaan anak pra-sekolah karena kebanyakan dari mereka belum bisa membaca dengan baik sehingga diperlukan buku yang memiliki nilai edukasi tahap awal yang baik untuk mereka. Namun, bukan berarti kami mengabaikan buku-buku anak-anak yang lain.

Pun dengan buku tulis dan alat tulis. Setidaknya kami membutuhkan 1000 set buku tulis dan alat tulis yang nantinya akan dibagikan kepada sekitar 300 murid sekolah. Sangat tidak wajar jika satu orang murid hanya membutuhkan satu paket buku dan alat tulis dalam satu semester ini. Maka dari itu kami membuat asumsi bahwa satu anak setidaknya membutuhkan tiga set buku dan alat tulis untuk dipakai dalam satu semester ini.

10256739_10203662034969109_8342632218202696573_o

Semua target yang sudah kami buat tersebut akan kami coba penuhi dalam 2,5 bulan ini. Mulai Bulan Februari 2015 sampai dengan April 2015. Hal yang paling terpenting dalam program ini adalah dukungan kalian semua agar semua tujuan tersebut bisa tercapai dengan baik. Tanpa dukungan kalian semua, kami tidak mungkin dapat mewujudkan niat baik ini kepada anak-anak Poga.

Advertisement

Author: Anjar Nurhadi

co-founder 1 Buku untuk Indonesia (@1buku) | part of Mafia Kubis (@mafiaakubisa) | engineer | @pagiharitshirt | #EduAksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s