1 Buku untuk Indonesia

Berbagi buku untuk pendidikan

1 Buku untuk Indonesia

Leave a comment

Jumat, 11 November 2011. Saya, Rosa, dan Chendy mengadakan sebuah rapat dunia maya. Ya, disebut dunia maya karena memang tidak ada satu pun dari kita yang saling bertemu untuk membahas sebuah ide yang sebenarnya itu bagus, mengumpulkan buku untuk kemudian dibagikan kepada yang membutuhkan. Ide ini sebenarnya sudah digagas sejak Rosa kembali dari perjalanannya sebagai salah satu peserta ACI (Aku Cinta Indonesia),  sebuah acara yang diadakan oleh salah satu koran elektronik Indonesia sebagai salah satu wadah untuk mengenalkan pariwisata Indonesia. Rosa yang selesai “berwisata” ke Maluku membawa banyak cerita dan salah satunya adalah cerita tentang pendidikan daerah Maluku yang bisa dikatakan memprihatinkan.

Ide ini berawal dari obrolan ringan di angkringan, ini adalah warung tradisional khas jawa. Dia menceritakan bagaimana kondisi sebuah sekolah yaitu Sekolah Dasar YPPK Manusela daerah di Seram Utara, Maluku Tengah, tepatnya di kaki Gunung Binaiya. Di sekolah ini hanya ada satu orang guru yang mengajar 6 kelas sekaligus, beliau adalah mama guru Yuli. Kondisi kelas juga sangat memprihatikan dimana ruang kelas tersebut hanya menggunakan papan kayu yang sudah mulai melapuk, jendela yang tak berkaca, kursi-kursi yang tidak memadai, dan lantai kelas yang hanya kerikil. Demikian pula dengan perpustakaan yang sangat memprihatikan. Di perpustakaan ini ada sebuah lemari yang besar dengan beberapa buah alat peraga matematika dan buku paket. Sekilas terlihat biasa saja, tetapi sebuah fakta yang cukup mencengangkan ketika tahu bahwa buku tersebut digunakan oleh seluruh siswanya, dan buku yang tersedia hanyalah sekitar dua puluhan buku. Tidak ada buku penunjang lainnya. Kondisi siswanya juga tidak kalah memprihatikan. Murid yang datang ke sekolah hanya menggunakan alat tulis yang juga seadanya. Pensil yang hanya tingga satu ruas jari, pena tanpa badannya, bahkan beberapa di antara mereka tidak memakai sepatu.

Namun, dari semua itu yang mendorong Rosa untuk berbagi kepada mereka adalah sebuah tulisan lugu dari seorang murid yang berisi “Kak Rosa kirim buku”. Sebuah tulisan sederhana yang menggambarkan bagaimana murid di sana sangat ingin mempunyai buku. BUKU, ya hanya BUKU bukan sebuah baju baru, sepatu, gadget canggih macam BB dan Ipad, atau televisi. Mereka hanya meminta buku yang notabene itu bukan hal yang sangat amat mahal bagi orang-orang yang tinggal di daerah Jawa.

Dari situlah kemudian Rosa dan teman-teman satu kelompoknya di ACI berniat untuk memberikan sumbangan buku setibanya mereka di daerah asal masing-masing. Rosa kemudian menghubungi saya untuk membantu agar misi ini bisa terwujud. Buat saya, ini bukan ide buruk, ini ide yang sangat bagus. Saya dengan senang hati menerima tawaran untuk membantunya. Rosa membuat tulisan kecil di note facebook yang sedikit menggambarkan bagaimana keadaan di sekolah tersebut. Tulisan itu kemudian saya mulai sebarkan ke beberapa teman dekat, baik teman kampus, teman sekolah SMA dulu, maupun ke beberapa organisasi yang pernah saya ikuti dulu. Diluar dugaan respon dari teman-teman cukup besar untuk berbagi buku dengan mereka yang tidak mampu. Satu per satu tapi pasti, calon donator buku mulai terkumpul.

Ada satu hal yang mengganjal, bagaimana dengan pengiriman barangnya, kita tidak hanya butuh sekedar buku untuk membantu mereka. Uang menjadi sebuah kendala lagi bagi kita. Mengajukan dana pada sebuah instansi, entah itu hanya sekedar toko buku pun pasti memerlukan semacam proposal. Kemudian siapa yang akan bertanggung jawab atas proposal itu? Perorangan? Tidak mungkin. Kita butuh sebuah wadah untuk memfasilitasi kegiatan ini. Saya dan Rosa mulai membicarakan tentang sebuah komunitas untuk mewadahi ide mulia ini. 1 buku untuk pendidikan, 1 buku untuk pelita, 1 buku untuk Indonesia. Saya memutuskan untuk memilih nama “1 Buku untuk Indonesia” karena lebih dirasa mengena daripada dua nama yang awal. Rosa sempat mengatakan bahwa namanya kurang eye catching, dengan santai saya jawab, “Ya kalo kurang eye catching, dicolok saja matanya”. Dari situ berkembang untuk bagaimana mencari pengurusnya. Hanya ada saya dan Rosa awalnya, yang satu kurang waras, yang satu agak gila. Butuh penengah kalo nanti sesuatu hal buruk terjadi. Tapi entah kenapa, kami malah justru dipertemukan dengan orang yang hampir mirip dengan kondisi kejiwaan kami. Chendy. Dia tidak kalah gilanya dengan Rosa. Namun, saya bersyukur ada bantuan lebih untuk kegiatan ini.

Rapat pertama dimulai tanggal 11-11-11. Tanggal cantik, tapi ya cuma tanggal dan itu bukan berarti hari ini adalah hari yang cantik, yang membuat cantik adalah apa yang kita lakukan untuk mengisi hari ini. Rencananya rapat akan dilaksanankan Jumat malam di kost Rosa. Tetapi, langit berkehendak lain, hari itu turun hujan dan akhirnya rapat dilakukan di dunia maya saja, tidak perlu bertemu yang penting bisa saling mengutarakan ide.

Rapat ini lebih semacam petaka, lebih banyak bahasan konyol di dalamnya daripada fokus untuk membicarakan 1 Buku untuk Indonesia. Rosa lebih sering melontarkan kata-kata bodoh, saling menghina satu sama lain, entah berapa kali saya dan dia saling mengumpat. Tapi inilah kita, jika tidak bercanda rasanya ada yang kurang, seperti sayur tanpa sayuran, ngga menarik. Chendy juga seperti itu, saya dan Rosa sempat dibuat menunggu dia selesai makan dan ternyata itu cukup lama. Ketika Chendy selesai dengan makannya, giliran Rosa yang pamit untuk buang hajat. Astaga! Komunitas macam apa ini?? Ampun, salah apa saya selama ini dan mengapa harus bertemu dengan orang-orang seperti ini. Tapi saya tidak begitu peduli, mereka itu orang-orang hebat yang sudah mau meluangkan waktunya untuk berbagi kepada sesama.

Sekembalinya Rosa dari tempat dia bertapa, kami bertiga melanjutkan permbicaraan tentang konsep awal gerakan 1 Buku untuk Indonesia ini. Dari pembicaraan panjang lebar dan nyaris tak berisi ini, kami menyimpulkan beberapa keputusan tentang kegiatan ini. Kegiatan ini intinya adalah mengumpulkan buku dari donator meskipun itu hanya sebuah buku saja. Buku-buku yang terkumpul nantinya akan disumbangkan pada sekolah-sekolah yang dirasa belum tercukupi kebutuhannya akan buku baik buku paket maupun buku penunjang lainnya. Selain buku, kami juga menerima beberapa barang lainnya untuk disumbangkan. Meskipun judulnya 1 buku, tapi kita juga menerima bantuan berupa alat tulis, seragam, majalah.

Rapat yang berjam-jam bak rapat DPR ini akhirnya juga memutuskan struktur organisasi yang sebenarnya tidak lazim karena organisasi ini tidak memiliki apa yang dinamakan sie-sie pendukung. Hanya ada koorndiator utama, bendahara, dan humas. Koordinator utama dipegang oleh yang palingngga waras, Rosa. Bendahara dipegang oleh Chendy dan saya yang paling tampan di komunitas ini memilih untuk menjadi Humas atau Hubungan Mas-Mas.. haha, bukan bukan, tapi Hubungan Masyarakat, bahasa kerennya sih Public Relationship with.., halah malah melenceng.

Tugas langsung dibagikan satu per satu, sebenarnya tidak hanya satu, yang benar-benar hanya mendapat satu adalah Rosa dan Chendy. Rosa dapat tugas menjadi admin fan page facebook.Chendy membuat proposal, sedangkan saya dapat cukup banyak secara langkah awal untuk mengenalkan komunitas ini adalah melalui humas. Email, Twitter ID, posterdan leaflet itu semua tugas saya. Curang kan? Yang lain cuma satu sedangkan saya dapat 4 tugas, inikah yang namanya keadilan bekerja? Tapi biarlah, yang penting kegiatan ini berjalan dengan lancar.

Entah dapat wangsit dari mana, datanglah satu orang lagi untuk bergabung, namanya Febi, adik angkatan Rosa di kampusnya. Saya kira dia akan menjadi orang yang cukup waras di komunitas ini, ternyata ya tidak jauh berbeda dari seniornya yang gila itu. Yah, mau bagaimana lagi, ada bantuan jangan ditolak. Dia menjabat sebagai sekretaris, untuk saat ini dia membantu pembuatan proposal bersama Rosa dan Chendy, sedangkan saya tetap tidak ada yang membantu..fuiih..

Harapan saya sebenarnya sederhana saja, semoga kegiatan yang dimulai dengan hati ini bisa benar-benar berjalan, amanah ini tidak ringan, nantinya akan banyak pihak yang perlu dipikul amanahnya di komunitas ini. Tapi saya harus optimis, kegiatan ini harus bisa berjalan, kalau tidak dimulai dari kita, siapa lagi yang akan peduli dengan kelanjutan pendidikan anak-anak di daerah terpencil. Bismillah saja, semoga Allah selalu menyertai langkah kami (Anjar)

Advertisement

Author: 1 buku untuk indonesia

1 Buku untuk Indonesia adalah wadah berbagi untuk para pemerhati pendidikan terutama di daerah-daerah yang masih tertinggal dan terpencil. 1Buku untuk Indonesia fokus pada pengumpulan buku (baik baru maupun bekas) dan mendistribusikannya ke perpustakaan/daerah-daerah yang masih membutuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s