1 Buku untuk Indonesia

Berbagi buku untuk pendidikan


Leave a comment

Membangun Asa di Poga

Tentang Rosa dan Papua

Laut biru berpasir putih, langit cerah sepanjang mata memandang, bukit-bukit penuh pohon, dan salju abadi di puncak gunung tertinggi Indonesia. Mungkin gambaran-gambaran itu yang muncul dalam benak kita ketika berbicara tentang Papua. Memang tidak bisa disangkal bahwa Papua memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah, mulai dari sungai, hutan, laut, dan gunung. Serta kebudayaan yang beragam karena banyaknya suku yang tinggal di pulau ini.

Namun, apa yang ada di benak kita semua ketika berbicara pendidikan Papua? Kami rasa kita semua sepakat bahwa pendidikan di Papua masih jauh dari kata baik. Keterbatasan jumlah guru, kurangnya fasilitas pendukung seperti perpustakaan menjadi permasalahan yang tak kunjung usai di Bumi Papua. Entah apa yang salah dengan pembangunan pendidikan di Papua.

Continue reading


Leave a comment

Sebuah Pesan Dari Poso

Kepada Yang Terkasih,

Kakak-kakak 1 Buku untuk  Indonesia

Di
Jogjakarta,

Salam damai,
Semoga kabar baik menyertai seluruh aktivitas kakak-kakak di 1 Buku,

Dengan bahagia Tim Project Sophia menyampaikan bahwa Perpustakaan Sophia sudah menerima 1084 buku-buku dari kakak-kakak 1buku. Dengan sangat bahagia Tim Project Sophia menyampaikan, empat hari setelah buku-buku tiba, kabar kedatangan buku-buku baru segera menciptakan kehidupan baru di Perpustakaan Sophia, mendorong lahirnya gerakan tiada hari tanpa membaca buku. Puluhan anak-anak berbondong-bondong datang membaca, dan mulai meminjam buku (bahkan pada pagi hari di hari Minggu). Semua itu karena jerih payah yang sudah kakak-kakak 1 buku dan para relawan yang membantu di 1 buku.

Oleh karena itu, terimakasih banyak untuk setiap usaha, setiap keringat yang kakak hasilkan, setiap kreativitas yang dibuat, yang telah menghasilkan buku-buku ini bagi anak-anak di Poso. Mohon juga menyampaikan pada semua relawan 1 buku yang telah menyumbangkan satu buku, satu peser sen:TERIMAKASIH dan Rasa Hormat dari kami semua, setiap anak-anak yang telah membaca, akan membaca karena satu buku, karena satu sen yang dikirimkan. Pada setiap satu buku, pada satu sen yang disumbangkan, telah hadir harapan, telah diciptakan kehidupan yang baru, yang menjanjikan masa depan cerah bagi anak-anak di Poso. Kami juga mendengar bahwa setiap buku dan setiap satu sen ada sebuah cerita dan kisah ajaib. Salah satunya yang kami dengar adalah kisah abdi dalem yang menyumbangkan Rp.10.000 (sepuluh ribu rupiah) bagi Project Sophia. Dengan rasa hormat dan kagum, mohon sampaikan ucapan TERIMAKASIH kami. Ketulusan bapak abdi dalem, adalah pelajaran berharga bagi kami untuk melihat setiap buku-buku yang hadir adalah sebuah kehidupan.

Terimakasih kakak-kakak.
Terimakasih untuk semuanya, setiap orang.

Semoga semua usaha, kerja keras, kreativitas di 1 buku tetap dilanjutkan untuk membangun karakter anak-anak Indonesia.

Hormat Kami

Atas nama Tim Project Sophia dan anak-anak di Poso

Lian Gogali
Tim Project Sophia

*ini adalah surat yang dikirim oleh mbak Lian untuk sahabat2 1 Buku untuk Indonesia* DANKEEEEE :*


Leave a comment

JOGJA MEMBACA

Perpustakaan TK Kyai Mojo

“saya ingin mempunyai perpustakaan di sekolah kecil ini, agar anak-anak punya kebiasaan membaca dari usia dini “

Itulah yang Bu Peni (60th)ucapkan saat saya dan beberapa teman dari tim 1 Buku untuk Indonesia menanyakan kenapa beliau berjuang mengumpulkan satu dua buku dari para donatur untuk perpustakaan di sekolahnya.

Suasana kelas TK 0 besar TK Kyai Mojo

Suasana kelas Nol kecil TK Kyai Mojo

Continue reading


1 Comment

Sepenggal Kisah Perjalanan Kotak Ajaib

Mendengar kata “Poso”, mungkin yang terbesit di dalam pikiran kita adalah “kerusuhan”, “kekerasan”, “konflik”, mungkin juga “trauma”. Tak salah memang, salah satu kabupaten yang berada di Sulawesi Tengah ini kerap menjadi langganan konflik, seakan konflik adalah identitas dari Poso. Entah sudah berapa kali terjadi kerusuhan di tempat ini sepanjang tahun 2012 ini.

Namun, bagi 1 Buku untuk Indonesia, Poso bukanlah sebuah tempat yang penuh dengan konflik. 1 Buku untuk Indonesia percaya bahwa dari tempat ini akan lahir orang-orang besar bagi bangsa Indonesia. Orang-orang yang akan membawa perubahan bagi Poso menuju sebuah tempat yang penuh kedamaian, tempat dimana impian dan harapan dibangun di atas rasa damai. Ya, kami percaya akan hal itu.

Continue reading


2 Comments

Hanya 1 Buku Saja, Kawan…


Membayangkan perjalanan Rosa, Dharma, dan Tim “1Buku untuk Indonesia” ke Manusela, sungguh heroik. Seperti yang dibilang oleh Farchan Noor Rachman, “Mereka   (mungkin) bukan pahlawan, tapi mereka peduli”, saya setuju. Itu jika pahlawan diartikan sebagai orang yang melawan penjajahan. Tim “1Buku untuk Indonesia” adalah pahlawan yang melawan penjajahan kebodohan dan keterbelakangan.

Kalaupun mereka tidak mau menerima sebutan itu, tidak masalah. Karena mungkin itu bukan tujuan mereka. Pujian, label, sebutan, dan sebagainya hanyalah urusan ‘luar’. Apresiasi semata. Ada ‘sesudah’ bukan ‘sebelum’ aksi.

Dan, saya kira Tim 1Buku untuk Indonesia akan berlapang hati kalau sebutan pahlawan buku lebih layak disematkan pada orang-orang nun di sana. Yang berjuang di dunia literasi tanpa terekspos media. Yang berjuang dengan penuh keikhlasan. Tanpa mengharapkan imbalan pujian dan materi dari siapa pun. Mungkin hanya satu harapan mereka: para pelahap buku nan masih muda itu, kelak jadi manusia-manusia besar yang bisa membawa perubahan lebih baik ke depannya.

Continue reading


1 Comment

Anak-Anak Manusela Tak Butuh Omongan Saya


 Saya cinta membaca dan jalan-jalan. Keduanya seolah tak terpisahkan dari diri saya. Kendati apa yang maksudkan dengan ‘membaca’ dan ‘jalan-jalan’ tidak melulu dimaknai secara literal. Membaca tidak hanya buku. Membaca bisa dengan segenap indra. Pun, jalan-jalan begitu. Tidak harus dengan kaki, tapi juga penelusuran melalui pikiran.

Maka, ketika saya membaca catatan Rosa Dahlia Yekti Pratiwi di Facebook berjudul “Jendela untuk sabahat kecil Manusela”, saya merasa ada sesuatu dalam diri yang bergerak. Tergerak. Jika bisa disebut, terilhami. Dan, tulisan tersebut akan teronggok begitu saja kalau tidak disebarluaskan.

Tulisannya mengingatkan saya pada tulisan para Pengajar Muda dari gerakan Indonesia Mengajar. Coretan-coretan yang menyentuh. Langsung menukik ke hati yang paling dalam. Mengetuk nurani. Sembari menghamparkan kenyataan. “Beginilah wajah pendidikan, wajah masyarakat, wajah budaya di daerah-daerah terpencil di Indonesia.” Itu yang seakan-akan mereka katakan lewat tulisan.

Continue reading